Minggu, 20 Januari 2013

Kisah Anna, Tidak Ada Kata Putus


Lelaki 'itu' tidak jahat sama sekali. Dia baik, bahkan baik sekali kepada setiap perempuan. Mungkin mereka pun sama seperti Anna. Terlalu pede. Terlalu mudah untuk terbawa suasana. Hal itu yang sempat membuat Anna luluh untuk sekian belas bulan lamanya larut dalam pesona kehangatan dan keramahannya.

Pendam, pendam dan terus pendam... Karena keadaan saat itu, Anna masih bersama yang lain, begitupun dia. Anna memang akrab dengannya. Sangat akrab. Setiap momen-momen bersamanya sangat sulit untuk hilang apalagi lenyap dalam ingatan seorang Anna. Pesan singkat yang seringkali terkirim dan dikirimkan, selalu penuh makna. Pesonanya membuat Anna luluh sejak bulan pertama Anna menjajaki dunia perkuliahan.
Lambat laun, keakraban itu makin menjadi. Sering kali dia memberi sinyal-sinyal ringan nan penuh tanda tanya. Bukan hanya Anna yang menyadari setiap sinyal-sinyal darinya, demikian yang dirasakan sahabat-sahabat Anna.

Setahun lebih berselang, hubungan Anna dengan lelaki sebelumnya kandas. Begitupun dia, yang juga tak melanjutkan hubungannya dengan mantan kekasihnya kini. Predikat single sama-sama mereka emban untuk selang bulan yang tidak begitu jauh. Sepi, dan kesepian...

Akhirnya kegiatan hang-out bareng, dinner bareng, hunting lokasi download, hunting lokasi beli ini itu dan pesan singkat yang tiada hentinya terus mengalir antara Anna dan dia, hingga detik ini. Tapi tak pernah ada ikrar persahabatan. Ya, sejauh ini Anna selalu menganggapnya sebagai sebuah hubungan pertemanan biasa. Begitupun feel yang Anna hadirkan di setiap pertemuan dengannya. Flat tapi berkesan...

Anna bahkan tidak pernah merasa sayang atau bahkan cinta. Anna pun tak pernah menyatakan bahwa Ia benar-benar menyukai sosok lelaki itu di luar konteks pertemanan. Namun, ada satu hal yang terus Anna takuti.

  • Anna takut, takut sekali terbawa suasana. Anna takut momen buruk terjadi di antara mereka.
  • Anna takut. Takut benar-benar menyukainya lebih dari sekedar teman. 
  • Anna takut. Takut untuk mencintainya di saat dia belum merasa mencintainya. Begitupun sebaliknya. 
  • Anna takut. Bukan 'over pede', tapi Anna takut ia menyukai sosoknya disaat Anna merasa illfeel terhadap lelaki itu. 

Entah, kisah-kisah Anna beberapa bulan terakhir ini terbilang selalu sendu dan galau. Bukan rasa yang di buat-buat, tetapi lagi-lagi Anna terus saja merasa takut. Takut apabila rasa itu akan muncul di saat yang tidak tepat. Cukup pertemanan tanpa kecemburuan yang aku inginkan saat ini, berharap dia pun berpikiran demikian. Semoga...

Pengakuan bahwa kenyamanan dan kehangatan pertemanan seperti ini yang benar-benar mereka berdua rasakan lah yang sesungguhnya mereka inginkan. Ikrar bahwa Anna nyaman dengan lelaki itu, begitupun lelaki itu yang ternyata merasakan kenyamanan yang sama dengan Anna. Kalimat kenyamanan di antara mereka pun terucap melalui 4 baris pesan singkat rabu malam itu. Lelaki itu pun sempat mengatakan bahwa semoga tak ada kata illfeel di antara mereka. Aamiin..

Selentingan ucapan orang-orang disekeliling mereka pun terdengar "Cukup..cukup hubungan seperti ini saja dahulu. Karna ini posisi paling enak, tidak ada kata putus"

Tidak ada komentar: