Permainanku dengan tokoh lama, kini memasuki babak baru.
Tidak ada status. Tidak ada prasyarat. Hanya satu kunci pengikat di antara kami, yakni "kepercayaan".
Dengan rasa nyaman nan tulus.
"Aku percaya kamu, dan kamu harus jaga kepercayan", itulah kalimat yang terlontar dari kami untuk kelanjutan hubungan kami.
"Aku percaya kamu, dan kamu harus jaga kepercayan", itulah kalimat yang terlontar dari kami untuk kelanjutan hubungan kami.
Lagi-lagi, keberadaan sahabat sangat aku hargai dalam setiap langkahku atas apapun. Bukan aku berjalan karena orang lain, tapi aku ingin berjalan beriringan bersama orang-orang yang peduli aku, demikian sebaliknya.
Dita Septiani Hikmat, sahabat semasa SMA yang mengetahui banyak tentang aku juga tentang tokoh 'lama' yang kini menjaga kepercayaanku. Calon dokter gigi yang satu ini, selalu menasehatiku tentang 'pendewasaan diri' dan menyikapi hal-hal yang dapat mendewasakan kita.
= Tetep harus bisa bedain yang namanya sayang, cinta, nafsu, dan cuma penasaran. Pada akhirnya gue lebih seneng menjalin hubungan dengan rasa ikhlas, bertanggung jawab dan percaya, karena pada kenyataannya gue ngerasa cinta sama pasangan itu bisa aja luntur. Kecuali cinta anak dan orang tua haha coba hubungan lo yang 3 taun kemaren itu sama doi, karena di usia hubungan yang 3 tahun itulah sebenernya baru dibuka ujian buat kesetiaan. Yaa intinya sih, kita gak boleh bangga kalo lo dan pacar udah ngerasa dan bilang cinta, sayang dan nyaman, karena itu semua gak cukup buat hubungan yang berkualitas dan sampai akhir hayat. =Ya, jelas sangat jelas bagaimana aku belajar tentang kehidupan. Kehidupan pasca-SMA tidak semata belajar tentang materi untuk masa depan tapi tentang bagaimana menghadapi kehidupan yang tida selamanya indah, lurus dan jelas. Ada kalanya samar tentang semuanya, termasuk soal jodoh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar